Minggu, 15 Mei 2011

JAMAN PRASEJARAH

Pengertian Sejarah

Sejarah merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Masa lalu itu memiliki pengertian yang luas, bisa berarti jutaan tahun yang lalu, setahun yang lalu, seminggu yang lalu, atau bahkan sedetik yang lalu. Kajian sejarah sangat luas, meliputi pengkajian peristiwa-peristiwa yang terjadi jutaan tahun lalu sampai peristiwa-peristiwa yang aktual.

Secara garis besar peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam sejarah berupa :
a) Peristiwa-peristiwa tertentu yang berdampak bagi masyarakat luas.
Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan peristiwa besar yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dunia. Pasca Perang Dunia II, banyak negara-negara di Asia dan Afrika yang menyatakan kemerdekaannya. Indonesia merupakan salah satu negara yang menyatakan kemerdekaannya setelah Perang Dunia II usai.
b) Peristiwa yang menjadi tonggak sejarah dunia.
Peristiwa yang menjadi tonggak sejarah dunia bisa dalam bentuk politik, sosial,ekonomi, dan perkembangan intelektual. Revolusi Industri merupakan peristiwa penting dan berdampak bagi pembangunan masa depan.
c) Penemuan-penemuan penting.
Sejarah berupaya mengungkapkan kehidupan masa lalu menusia. Penemuan artefak telah memudahkan dalam menafsirkan bagaimana masyarakat masa lalu menjalani kehidupannya.
d) Kepribadian orang-orang yang berpengaruh.
Sejarah bercerita tentang orang-orang yang secara historis terkenal akan kebaikannya maupun keburukannya. Kepribadian orang-orang tersebut menjadikan bahan pelajaran bagi masyarakat kini dan masa akan datang.

Benda-benda peninggalan sejarah dapat berupa :
1. Fosil, yaitu benda peninggalan sejarah yang berupa tulang-belulang makhluk hidup purbakala.
2. Artefak, yaitu benda peninggalan sejarah yang berupa alat-alat kelengkapan hidup manusia purbakala.
3. Prasasti, yaitu benda peninggalan sejarah yang berupa tulisan-tulisan atau simbol-simbol tertentu dari manusia purbakala.

Setiap bangsa di dunia ini mempunyai sejarahnya masing-masing. Untuk mengetahui gambaran masa lalu manusia maka peninggalan-peninggalan sejarah menjadi penting. Peninggalan-peninggalan sejarah membantu mengungkapkan masa lalu. Pengetahuan sejarah disusun berdasarkan sejumlah peninggalan peristiwa sejarah. Peninggalan itu disebut sumber sejarah.

Terdapat 3 macam sumber sejarah, yaitu :
1. Sumber Lisan, yaitu keterangan langsung dari para pelaku atau saksi dari peristiwa sejarah.
2. Sumber Tulisan, yaitu keterangan tertulis mengenai suatu peristiwa sejarah, seperti prasasti, piagam, dokumen, babad, tambo, naskah, surat kabar, laporan dan lain-lain.
3. Sumber benda, yaitu keterangan yang diperoleh dari kajian benda-benda peninggalan sejarah masa lampau, seperti alat-alat dari batu, senjata, patung, perhiasan, candi, gedung, dan sebagainya.

Tingkat peradaban manusia terbagi menjadi dua babak yakni zaman prasejarah dan zaman sejarah. Zaman prasejarah (pra berarti sebelum) mendahului zaman sejarah. Peninggalannya tidak ada yang berbentuk tulisan. Sumber utama zaman prasejarah adalah sumber benda. Penelitian tentang kehidupan zaman prasejarah hanya melalui sumber-sumber benda tersebut.

Peristiwa yang menandai berakhirnya zaman prasejarah dan mulainya zaman sejarah adalah keterangan dalam bentuk tulisan. Msyarakat sudah mengenal tulisan dan mencatat segala kejadian dan peristiwa dalam bentuk tulisan. Sumber-sumber sejarahnya sangat beragam dari sumber benda sampai sumber lisan.

Zaman prasejarah tidak meninggalkan bukti tertulis. Zaman itu hanya meninggalkan benda-benda hasil kebudayaan manusia. Umur peninggalan budaya itu dapat diketahui dengan cara :
1. Tipologi, yaitu cara penentuan umur benda peninggalan berdasarkan bentuknya. Makin sederhana bentuk benda peninggalan itu, makin tua usia benda itu.
2. Stratigrafi, yaitu cara menentukan umur benda peninggalan berdasarkan lapisan tanah tempat benda itu ditemukan. Lapisan tanah paling atas adalah lapisan paling muda, sedangkan lapisan paling bawah adalah lapisan paling tua.
3. Kimiawi, yaitu cara penentuan umur benda peninggalan berdasarkan unsur-unsur kimia yang dikandung benda itu.

SEJARAH PEMBENTUKAN BUMI

Sesudah bumi terjadi bersama-sama planet lainnya (4,6 milyar tahun lalu), maka bahan-bahan yang lebih padat menggumpal di dalam intinya, sedangkan keraknya terdiri dari unsur-unsur silisium dan aluminium sesudah itu menyusul lapisan yang agak dalam lagi, dengan unsur utama silisium dan magnesium. Lebih dalam lagi terdapat lapisan yang banyak mengandung unsur persenyawaan logam sulfida. Yang paling dalam adalah inti, yang mengandung besi dan nikel.

Era sejarah pembentukan bumi dapat dibagi empat yaitu : Prakambrium, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Kenozoikum.

1. Prakambrium.

Era prakambrium lebih tua dari zaman kambrium, dimana lapisan-lapisannya selalu terdapat di bawah lapisan-lapisan yang mengandung fosil. Jelasnya, lapisan batuan baru dikatakan pasti berumur prakambrium jika tertutup lapisan yang berfosil kambrium. Era prakambrium terdiri dari masa Proterozoik dan Archea selama 2000 tahun. Organisme bersel tunggal seperti alga hijau biru dan bakteri yang muncul pertama pada masa ini.
Lapisan prakambrium terdiri dari batu-batuan berhablur, baik yang berasal dari pembekuan magma cair, maupun dari peleburan dan penghabluran kembali sedimen-sedimen dan batu-batuan lainnya, yang disebabkan perubahan kimiawi dan fisis pada sedimen-sedimen dan batuan beku.

Pada era prakambrium dapat diketahui pula bahwa di beberapa daerah terdapat iklim yang sangat dingin (endapan terbentuk oleh es darat atau gletser). Sedangkan pada saat lain, iklimnya panas dan lembab (lapisan yang berwarna merah dengan rekah kerut). Tetapi sangat sukar untuk menentukan iklim dari lapisan-lapisan sedimen yang ada. Pada waktu itu permukaan bumi yang ada diatas muka laut merupakan gurun, yang tidak disebabkan karena kekurangan air yang sangat besar (sahara), tetapi karena waktu itu belum terdapat tumbuh-tumbuhan darat. Faktor lain adalah adanya oksigen bebas dalam atmosfer, yang jauh lebih sedikit dari sekarang.

Diketahui pula bahwa pada era prakambrium tidak ditemukan bentuk-bentuk hidup dengan tekstur dan bentuk yang terang/jelas. Tekstur adalah istilah yang dipakai untuk bentuk-bentuk dan arah-arah di dalam batuan, misalnya tekstur butir.

2. Palaeozoikum

1) Kambrium

Pada endapan-endapan yang terbentuk pada zaman kambrium banyak ditemukan fosil, sehingga banyaklah yang dapat diketahui tentang keadaan kehidupan masa itu.
Semua makhluh hidup terbatas pada air laut, terutama jasad-jasad samudera, contohnya archaecyatha dan binatang petunjuk. Archaecyatha peranannya seperti binatang karang sekarang. Jenis ini banyak membentuk endapan-endapan gamping yang tebal. Binatang yang menjadi fosil penunjuk yang terpenting pada zaman kambrium adalah trilobita yaitu sejenis udang-udangan yang berkulit keras.

Dengan menggunakan jejak fosil, maka dapatlah diketahui 3 macam zaman kambrium, yaitu :
1. Fauna Kambrium Bawah.
Masih bersifat kosmopolit, yaitu binatang-binatang masih terdapat di berbagai tempat di dunia (trilobite olenellus).
2. Fauna Kambrium Tengah.
Sudah terbagi menjadi daerah-daerah fauna pasifik disebut sebagai Olenoides dan fauna daerah atlantik disebut sebagai fosil binatang Paradoxides.
3. Fauna Kambrium Atas.
Daerah fauna fasifik bercirikan Diclocephalus yang meliputi wilayah Eropa-Tiongkok-Tibet sampai Spanyol. Daerah fauna atlantik bercirikan Olenus.

2) Silur

Pada zaman Silur, penyebaran fauna lebih luas dibandingkan dengan zaman kambrium. Banyak kelompok binatang baru muncul dalam zaman Silur ini. Diantaranya yang terpenting adalah Vertebrata atau binatang bertulang belakang. Graptalit adalah ciri fosil penunjuk pada zaman Silur dan merupakan kumpulan binatang kecil yang disebut Rabdosoma.

3) Devon.

Zaman ini bercirikan munculnya tumbuh-tumbuhan darat dan binatang amphibia. Di laut dijumpai perkembangan luas kelompok-kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang), seperti Amronit. Pada dasarnya Devon terbagi atas tiga masa, yaitu Devon Bawah, Devon Tengah, dan Devon Atas. Pada masa ini benua Asia dan Benua Eropa masih menyatu.

4) Karbon.

Zaman ini ditandai dengan timbulnya sejumlah besar karbon bebas di berbagai bagian dunia. Karbon ini berperan penting menjadi petunjuk keadaan cuaca dan iklim pada masa itu. Pada zaman karbon ini terjadi pembentukan pegunungan. Terjadinya batu bara juga sangat erat hubungannya dengan pengangkatan dan pembentukan pegunungan. Pada masa ini mulai bermunculan serangga-serangga raksasa seperti lebah, lipan dan kalajengking. Serangga-serangga zaman ini adalah karnivora (pemakan daging).

5) Perm

Perm memiliki letak lapisan yang diskor dan berada diatas lapisan karbon yang mengandung batu bara. Ciri lain adalah adanya penyimpangan fauna laut dari 2 karbon fosil pada era Palaeozoikum yang penghabisan.

3. Mesozoikum.

Mesozoikum terdiri dari zaman kapur, Jurrasic, dan Triassic. Zaman kapur berumur kurang lebih 90 juta tahun, Jurassic 145 juta tahun, dan Triassic 190 juta tahun. Ketiga zaman ini disebut tingkat kehidupan pertengahan. Pada zaman ini mulai timbul dan berkembang tumbuh-tumbuhan berdaun lebar, pakis raksasa, reptilia raksasa seperti dinosurus, amphibia, ikan, dan mammalia pertama, tetapi klasifikasi dan penyebaran kehidupan flora dan fauna pada era ini masih terbatas.


4. Kenozoikum.

Kenozoikum disebut juga era Neozoikum, terdiri atas zaman tersier dan kuarter yang merupakan tingkat kehidupan baru.
1) Zaman tersier terbagi menjadi masa eosen berumur 70 juta tahun, oligosen 42 juta tahun, miosen 20 juta tahun, dan pleistosen 16 juta tahun. Pada masa ini berkembang semakin luasnya klasifikasi jenis flora dan fauna.
2) Zaman Kuarter terdiri atas masa diluvium dan masa alluvium. Kedua masa ini kurang lebih 2 juta tahun yang lalu. Zaman kuarter merupakan permulaan era baru dengan munculnya manusia pertama di dunia. Manusia pertama ini menurut Charles Darwin adalah nenek moyang manusia yang berasal dari primata sejenis monyet. Perkembangan flora dan fauna meluas serta sudah berkembang dengan baik.

Skala Waktu Geologi Beserta Kehidupannya

Era Zaman Masa Umur
(juta tahun lalu) Kehidupan
Tumbuh-tumbuhan Kehidupan
Binatang dan Manusia
Kenozoikum Neogen Holosen 0 – 0,01 Kerusakan hutan hujan
Topis oleh karena manu-
Sia menimbulkan kepunahan Masa peradaban
manusia
Kepunahan Mamalia Penting
Pleistosen 0,01 - 2 Keragaman dan penyebaran
Tumbuhan herba (tumbuhan
Perdu ) Munculnya manusia
modern
Pilosen 2 – 6 Tumbuh suburnya tumbuhan herba
Angiospermae (tumbuhan perdu angiospermae) Munculnya hominids
pertama
Milosen 6 - 24 Persebaran padang rumput sebagai perkembagan
Hutan. Mamalia menyerupai kera
Dan penggembalaan mama
Lia yang meningkat; bera
Gamnya insektivora.



Paleogen


Oligoson 24 – 37 Berkembangnya famili yang modern dari tum-
Buhan bunga2an. Mamalia pemakan rumput
Dan munculnya primate
Menyerupai monyet
Eosen 37 – 38 Hutan subtropical dengan curah hujan tinggi,
Tumbuh dengan subur/baik. Terdapatnya semua ordo
Modern mamalia.
Paleosen 58 – 66 Tumbuhan bunga2an menjadi beranekaragam.
Munculnya primata primitif
Herbivora, karnivora, dan
Insektivora.
Mesoozoikum Crestaseus Kepunahan Massa (besar-besaran); sebagian besar Reptil dan Dinosaurus
66 – 144 Penyebaran tumbuhan bunga2an; keberlangsu
Ngan konivera. Munculanya mamalia pla
Sental; munculnya sekelom
Pok insekta.
Jura 144 - 208 Munculnya tumbuhan bunga2an Berkembangnya dinosaurus; munculnya burung.


Trias Kepunahan massa (besar-besaran)
208 - 245 Dominasi hutan konifera dan cycad Munculnya mamalia perta-
Ma; munculnya dinosaurus
Pertama, moluska dan kor
Al (karang) yang mendomi
Nasi laut.
Palaeozoikum Perm Kepunahan massa (besar-besaran)
245 - 286 Beragamnya Gymnospermae Beragamnya reptil; penuru
Nan amphibi
Karbon 286 - 360 Masa berkembangnya pembentukan batu bara
Dalam jumlah besar; paku2an, lumut dan hutan

Beragamnya amphibi; mun
Culnya reptile pertama; per
Tama kalinya radiasi hebat
Terhadap insekta
Devon Kepunahan massa (besar-besaran)
360 - 408 Munculnya tumbuhan berbiji pertama. Beragam
Nya tumbuhan berpembuluh yang tidak berbiji. Beragamnya ikan berahang
Dan mendominasi laut;
Munculnya amphibi perta
Ma dan insekta pertama.
Silur 408 - 438 Munculnya tumbuhan berpembuluh yang tidak
Berbiji. Munculnya ikan berahang
Pertama.
Ordovik Kepunahan massa (besar-besaran)
438 - 510 Berlimpahnya tumbuhan tidak berpembuluh.
Berkembangnya alga laut. Keragaman penyebaran in-
Vertebrata; munculnya
Ikan tidak berahang
(vertebrata pertama)
Kambrium 510 - 543 Munculnya tumbuhan pertama di daratan.
Berkembangnya alga laut Dominasi invertebrata de-
Ngan kerangka.
Prakambrium 600
1.400 – 700
2000
2500
3500
4500 Fosil invertebrata bertubuh halus tertua
Beragamnya dan berkembangnya profist.
Fosil eukariotik tertua.
Akumulasi O2 di atmosfer.
Fosil tertua yang diketahui (prokariotik)
Pembentukan bumi


Beragam Teori Tentang Muncul dan Berkembangnya Manusia

Berikut ini akan dideskripsikan beberapa teori dan pendapat para ilmuwan yang berkaitan dengan asal-usul serta perkembangan manusia.
a. Kalangan Evolusionis
Tokoh-tokoh pemikir Yunani kuno seperti Empodocles, Anaximander, dan Aristoteles berpendpat bahwa baik tumbuhan dan hewan itu mengalami evolusi serta dari tubuh binatang tertentu berevolusi menjadi manusia. Mereka mengatakan bahwa binatang yang satu berasal dari binatang yang lain.
b. Ernest Haeckel (1834-1919)
Ilmuwan biologi dari Jerman ini berpendapat bahwa asal-usul kehidupan yang pertama berasal dari zat putih telur yang liat dan cair. Akibat pengaruh dari luar maka terciptalah bakteri, amuba, binatang berongga, ikan, amphibi, reptil, dan mamalia. Binatang-binatang itu saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Pada zaman tersier dari binatang menyusui itu berkembang dan muncullah manusia. Haeckel berkesimpulan, bahwa nenek moyang manusia itu berasal dari bangsa kera atau monyet dalam tingkatan yang teratur.
c. Charles Robert Darwin (1809-1882).
Darwin adalah ilmuwan inggris yang kemudian dikenal sebagai tokoh evolusi itu, memaparkan teorinya menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Teori Descendensi atau Turunan.
Dalam bukunya yang berjudul “The Descen of Man (1871)”, Darwin berkata bahwa manusia lebih dekat dengan kera besar di Afrika (gorilla dan simpanse). Teori lainnya menyebutkan bahwa makhluk yang lebih tinggi itu berasal dari makhluk yang lebih rendah. Akhirnya, semua makhluk hidup bisa dikembalikan kepada beberapa bentuk asal.
2) Teori Natural Selection atau Seleksi Alam.
Teori ini mencoba memberi keterangan tentang terjadinya tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang menyesuaikan diri kepada alam sekitarnya. Darwinisme adalah sebuah teori yang mengatakan bahwa semua barang-barang yang hidup dapat maju berlahan-lahan naik ke atas. Keyakinan Darwin bahwa manusia itu berasal dari hewan, telah memicu perdebatan antar ilmuwan dan kontroversi bahkan hingga kini. Dalam kerangka teori Darwin itu pulalah, berbagai penemuan fosil manusia purba yang ada di Indonesia senantiasa dikaitkan.
d. J.H. Wieringen
Ilmuwan ini menguraikan asal-usul manusia berdasarkan peninggalan-peninggalan manusia yang ditemukan di lapisan bumi. Misalnya tahun 1856 ditemukan fosil di lembah Neander, Erbefeld, Jerman Barat, yang kemudian disebut Homoneandertalensis. Ciri-ciri fosil itu, antara lain : tulang keningnya rendah, letak mata yang sangat besar, mempunyai lengkung alis, tulang roman muka yang sangat tebal, tengkoraknya besar, dan tergantung pada tunlang belakang (tidak terletak di atasnya), tidak mempunyai dagu (belum pandai berbicara dengan tekanan suara), serta berbentuk moncong (bagian paras lebih ke depan dari tempat otak). Dari hasil identifikasi itu terlihat bahwa bentuk manusia tersebut menyerupai kera. Diperkirakan manusia tersebut hidup antara 75.000 hingga 30.000 tahun sebelum masehi. Namun, Wieringen berpendapat bahwa meskipun manusia awal itu menyerupai monyet, tetapi nenek moyang manusia bukanlah monyet. Alasan ia kemukakan adalah antara manusia dan monyet adalah dua jenis yang berdiri sendiri, serta masing2 mempunyai jalan kemajuan sendiri-sendiri.
Bagaiman Menjelaskan Evolusi itu ?

Evolusi adalah perubahan frekuensi gen (faktor keturunan) yang terjadi dari generasi ke generasi. Evolusi bisa terjadi dalam skala besar pada tingkat di atas spesies. Misalnya terjadi ordo baru. (Ordo adalah klasifikasi dalam biologi yang lebih rendah daripada kelas dan lebih tinggi daripada family). Evolusi ini biasa disebut makro evolusi. Evolusi yang lain disebut mikro evolusi yaitu perubahan frekuensi gen dalam skala kecil dan terjadi pada tingkat di bawah spesies. Misalnya terjadinya ras baru. Perubahan-perubahan itulah yang bisa menandai ciri tubuh makhluk hidup.

Ada dua faktor yang yang bisa menyebabkan perbedaan ciri tubuh makhluk hidup, yaitu pewarisan dan lingkungan. Satuan pewarisan yang kecil adalah gen, yang terdapat pada kromosom. Kromosom ini terdapat di dalam inti sel dan terbentuk secara berpasang-pasangan. Konon, manusia sekarang memiliki 23 pasang kromosom, dimana setiap kromosom terdapat ribuan gen. ada sekitar 100.000 gen pada setiap manusia.

Lalu, bagaimana evolusi bisa terjadi pada manusia? Kita tentu mengetahui bahwa manusia itu berkembang biak. Saat itulah, gen dari kedua orang tua menurun kepada anaknya, sehingga terdapat kombinasi gen yang baru. Dalam suatu populasi, gen dan frekuensinya tidak berubah kecuali jika ada kejadian-kejadian tertentu. Gen dan frekuensi bisa berubah apabila terjadi : pertama, mutasi yaitu gen atau kromosomnya berubah. Kedua, Seleksi Alam artinya menguntungkan gen-gen yang sesuai dengan lingkungan. Akibatnya adalah gen bisa bertambah banyak dari generasi ke generasi serta bisa mengurangi gen yang tidak sesuai. Ketiga, terjadinya arus gen yaitu mengalirnya gen ke dalam atau ke luar suatu populasi. Keempat, terjadinya perubahan frekuensi gen secara acak dalam populasi kecil yang disebut efek perintis. Nah, perubahan frekuensi gen yang berlangsung lambat laun dari angkatan ke angkatan itulah yang disebut evolusi, dan keempat faktor itulah yang disebut faktor evolusi.

Permasalahannya adalah mengapa evolusi senantiasa bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah dari keempat faktor evolusi itu pasti akan ada dalam jangka waktu tertentu. Namun, kebanyakan yang terjadi adalah mikro evolusi, yaitu terjadinya perubahan frekuensi gen dalam ukuran kecil di bawah tingkat spesies. Hal inilah yang menyebabkan munculnya populasi lokal, subras, atau ras baru. Sedangkan golongan-golongan di atas spesies mengalami makro evolusi, karena adaptasinya dengan lingkungan. Setelah bisa beradaptasi dengan lingkungannya, kelompok-kelompok baru ini mengalami spesialisasi.



Jenis-jenis manusia purba Indonesia

1. Meganthropus Palaeojavanicus (manusia raksasa dari jawa kuno)
Fosil manusia purba ini adalah jenis paling tua yang pernah ditemukan di Indonesia. Penemuanya adalah Ralph von Koenigswald di daerah sangiran. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah dan atas serta gigi lepas. Dengan cara stratigrafi, diketahui fosil tersebut berada pada lapisan Pucangan. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil ini berumur 1-2 juta tahun.
Ciri-ciri Meganthropus Palaeojavanicus :
 Berbadan tegap dengan tonjolan tajam di belakang kepala.
 Bertulang pipi tebal, dengan tonjolan kening yang mencolok
 Tidak berdagu
 Otot kunyah, gigi, dan rahang besar dan kuat
 Makanannya jenis tumbuh-tumbuhan.
2. Pithecanthropus (manusia kera)
Fosil manusia purba jenis ini adalah jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Dengan cara stratigrafi, diketahui fosil tersebut berada pada lapisan Puncangan dan Kabuh. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil ini amat bervariasi umurnya, antara 30.000 – 2 juta tahun yang lalu.
Ciri-cirinya :
 Tinggi tubuhnya kira-kira 165 – 180 cm
 Badan tegap, namun tidak setegap Meganthropus.
 Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis
 Otot kunyah tidak sekuat Meganthropus
 Hidung lebar dan tidak berdagu.
 Makanannya bervariasi tumbuhan dan daging hewan buruan.
Jenis Pithecanthropus :
a) Pithecanthropus Mojokertensis (manusia kera dari mojokerto)
Fosil manusia purba jenis ini ditemukan oleh von Koeningswald di dekat Mojokerto, jawa timur, pada tahun 1936. Fosil berupa tengkorak anak-anak. Fosil tersebut disebut juga Pithecanthropus Robustus.
b) Pithecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak)
Fosil manusia purba jenis ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1890 di Trinil, Lembah Bengawan Solo. Fosil berupa tulang rahang, bagian atas tengkorak, geraham, dan tulang kaki.
c) Pithecanthropus Soloensis (manusia kera dari solo)
Fosil manusia purba jenis ini ditemukan oleh von Koeningswald dan Oppenorth di Ngandong dan Sangiran, di tepi Bengawan Solo, antara tahun 1931 – 1933. Fosil berupa tengkorak dan tulang kering.

3. Homo (manusia)
Fosil manusia jenis homo adalah paling muda dibandingkan dengan fosil manusia purba jenis lainnya. Disebut juga Homo Erectus (manusia berjalan tegak) atau Homo Sapiens (manusia cerdas). Dengan cara stratigrafi, diketahui fosil tersebut berada pada lapisan Notopuro. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil ini amat bervariasi umurnya, antara 25.000 – 40.000 tahun.
Ciri-ciri homo :
 Tinggi tubuh 130 – 210 cm.
 Otak lebih berkembang daripada meganthropus dan pithecanthropus.
 Otot kunyah, gigi, dan rahang sudah menyusut.
 Tonjolan kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
 Mempunyai ciri-ciri ras Mongoloid dan Austramelanosoid.
Jenis-jenis homo :
a) Homo Soloensis (manusia dari solo)
Fosil manusia purba jenis ini ditemukan oleh von Koenigswald dan Weidenrich pada tahun 1931 – 1934 di Lembah Bengawan Solo. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak. Dari volume otaknya, dapat diketahui bahwa jenis ini sudah merupakan manusia (homo), bukan lagi manusia kera (pithecanthropus).
b) Homo Wajakensis (manusia dari wajak)
Fosil manusia purba jenis ini ditemukan oleh E. Dubois pada tahun 1889 di daerah Wajak dekat Tulungagung. Manusia jenis ini sudah mampu membuat alat-alat dari batu maupun tulang. Mereka juga telah mengenal cara memasak makanan.

Zaman prasejarah di Indonesia dapat dibagi menjadi empat babak, yaitu :
1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Kehidupan manusia sangat tergantung dengan alam. Manusia belum mampu membuat makanan sendiri. Tempat yang dipilih untuk dihuni adalah dataran rendah yang subur dan dekat dengan sumber air.
Manusia memperoleh makanan dengan cara berburu (hunting) dan mengumpulkan bahan makanan yang tersedia (food gathering) di sekitar tempat tinggalnya. Manusia hidup dalam kelompok kecil, 20 – 30 orang. Manusia hidup berpindah-pindah (nomaden). Perpindahan terjadi saat suatu daerah tidak lagi memberikan cukup makanan. Peralatan masih sederhana, terbuat dari batu dan tulang.
2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
Manusia pada masa ini sudah memilih hewan yang menjadi binatang buruan, dengan perkakas yang sesuai dengan jenis binatang yang diburu. Manusia sudah memilih tumbuhan dan hewan yang menjadi bahan makanan. Manusia hidup dalam gua-gua, dan hewan yang menjadi bahan makanan. Peralatan masih dari batu dan tulang, namun sudah disesuaikan dengan keperluan.
3. Masa bercocok tanam.
Manusia menetap dalam suatu desa dengan kelompok besar, 300 – 400 orang. Beberapa kelompok telah memiliki pemimpin yang bertanggungjawab mengatur ketertiban kelompok. Manusia mulai memelihara hewan dan mengolah lahan untuk ladang dan rumah. Manusia sudah terbiasa menyimpan dan mengawetkan makanan. Manusia sudah mengenal kepercayaan kepada nenek moyang dan kekuatan alam. Peralatan terbuat dari batu pilihan yang telah diasah halus.
4. Masa perundagian.
Kelompok telah mengenal pembagian kerja. Muncul orang-orang tertentu dengan keahlian atau keterampilan khusus. Kelompok menjadi lebih majemuk dengan adanya perbedaan status (kedudukan) antara orang yang satu dengan orang lain. perbedaan status ditentukan dari jumlah harta benda yang dimiliki. Peralatan terbuat dari logam, yakni perunggu dan besi. Manusia pun telah mengenal pengolahan emas untuk perhiasan dan persembahan. Manusia membangun tempat ibadah yang terbuat dari batu-batuan besar.

Sistem Kepercayaan Manusia Praaksara

Sistem kepercayaan telah berkembang pada masa manusia praaksara. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain di luar mereka. Oleh sebab itu, mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya. Beberapa sistem kepercayaan manusia purba adalah seperti berikut :
a. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh yang mendiami semua benda. Manusia purba percaya bahwa roh nenek moyang masih berpengaruh terhadap kehidupan di dunia. Mereka juga memercayai adanya roh di luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami semua benda, misalnya pohon, batu, gunung, dsb. Agar mereka tidak diganggu roh jahat, mereka memberikan sesaji kepada roh-roh tersebut.
b. Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. Mereka percaya terhadap kekuatan gaib dan kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dll. Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara pemberian sesaji, atau ritual lainnya.
c. Totemisme adalah kepercayaan bahwa hewan tertentu dianggap suci dan dipuja karena memiliki kekuatan supranatural. Hewan yang dianggap suci antara lain sapi, ular, dan harimau.

Pembabakan zaman prasejarah Indonesia berbeda dengan pembabakan zaman prasejarah pada umumnya. Pembabakan zaman prasejarah Indonesia berdasarkan kebudayaan, sedangkan pembabakan zaman prasejarah pada umumnya berdasarkan teknologi pembuatan alat. Berdasarkan teknologi itu, zaman prasejarah pada umumnya terbagi menjadi :
 Palaeolithikum, zaman batu tua (sejaman dengan masa berburu dan mengumpulkan makanann tingkat sederhana)
 Mesolithikum, zaman batu tengah (sejaman dengan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut).
 Neolithikum, zaman batu baru (sejaman dengan masa bercocok tanam).
 Zaman Perunggu dan Besi, (sejaman dengan masa perundagian).
Pembabakan zaman prasejarah di atas tetap penting karena berhubungan erat dengan pembabakan zaman prasejarah Indonesia.

Peninggalan Zaman Prasejarah Indonesia

A. Alat Batu

1. Kapak Genggam.
Kapak genggam disebut juga dengan kapak perimbas. Alat ini berupa batu yang dibentuk menjadi semacam kapak. Teknik pembuatannya masih kasar, bagian tajam hanya pada satu sisi. Alat tersebut belum bertangkai, dan digunakan dengan cara digenggam. Tempat ditemukan lahat (Sumatera Selatan), Kalianda (Lampung), Awangbangkal (Kalimantan Selatan), Cabbenge (Sulawesi Selatan), dan Trunyan (Bali).
2. Alat Serpih.
Alat serpih merupakan batu pecahan sisa pembuatan kapak genggam yang dibentuk menjadi tajam. Alat tersebut berfungsi sebagai serut, gurdi, penusuk, dan pisau. Tempat ditemukan : Punung, Sangiran, dan Ngandong, Gombong (Jawa Tengah), Lahat, Cabbenge, dan Mengeruda (Flores).
3. Sumatralith.
Nama lain alat tersebut adalah kapak genggam Sumatera. Teknik pembuatannya lebih halus dari kapak perimbas. Bagian tajam sudah pada kedua sisi. Cara menggunakannya masih dengan digenggam. Tempat ditemukan : Lhokseumawe (Aceh) dan Binjai (Sumatera Utara).
4. Beliung Persegi.
Beliung persegi merupakan alat dengan permukaan memanjang dan berbentuk segi empat. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus. Sisi pangkal diikat pada tangkai, sisi depan diasah sampai tajam. Beliung persegi berukuran besar berfungsi sebagai cangkul, sedangkan yang berukuran kecil berfungsi sebagai alat pengukir rumah atau pahat. Tempat ditemukan : Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi.
5. Kapak Lonjong.
Kapak lonjong merupakan alat berbentuk lonjong. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus. Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada tangkai. Sisi depan lebih melebar dan diasah sampai tajam. Alat ini digunakan untuk memotong kayu dan berburu.
6. Mata panah.
mata panah merupakan alat berburu yang sangat penting. Selain untuk berburu, mata panah juga digunakan untuk menangkap ikan. Khusus untuk menangkap ikan, mata panah dibuat bergerigi. Selain terbuat dari batu, mata panah juga terbuat dari tulang. Tempat ditemukan : Gua Lawa, Gua Gede, Gua Petpuruh (Jawa Timur), Gua Cakondo, Gua Tomatoa Kacicang, Gua Saripa (Sulawesi Selatan).

B. Alat Tanah Liat.

Gerabah merupakan perabotan rumah tangga. Pada masa bercocok tanam, alat tersebut masih dibuat secara sederhana, belum menggunakan roda pemutar dan teknik pembakaran yang sempurna. Pada masa perundagian, alat tersebut dibuat dengan teknik lebih maju. Gerabah berfungsi sebagai alat penyimpan (wadah) untuk makanan (berupa perikuk) dan sesajian (berupa cawan berkaki).

C. Bangunan Megalitik

Bangunan megalitik (mega berarti “besar” dan lithos berarti “batu”) adalah bangunan-bangunan terbuat dari batu besar yang didirikan untuk keperluan kepercayaan. Bangunan megalitik tersebar hampir di seluruh Kepulauan Indonesia. Seringkali dalam satu tempat ditemukan sekaligus beberapa jenis bangunan megalitik.

Bangunan megalitik mulai muncul sejak masa bercocok tanam dan terus berlanjut sampai masa perundagian, bahkan berpengaruh terhadap pendirian bangunan bercorak Hindu-Buddha di masa sejarah. Jenis bangunan megalitik antara lain sebagai berikut :

1. Menhir
Menhir berupa batu tegak atau tugu. Menhir berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang atau tanda peringatan orang yang telah mati.
2. Dolmen
Dolmen berupa meja batu, terdiri atas batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu lain. Dolmen berfungsi sebagai tempat persembahan untuk memuja arwah leluhur. Bisanya dolmen ditemukan bersama dengan kubur batu.
3. Sarkofagus
Sarkofagus berupa kubur batu. Bentuknya seperti lesung dan diberi tutup.
4. Kubur Peti Batu.
Kubur peti batu berupa tempat penguburan dalam tanah. Sisi, alas, dan tutupnya terbuat dari papan batu.

5. Waruga
Waruga berupa kubur batu berbentuk kubus dengan tutup berbentuk atap rumah.
6. Punden Berundak
Punden berundak berupa bangunan bertingkat yang dihubungkan tanjakan kecil. Punden berundak berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Biasanya di tiap tingkat didirikan menhir.
7. Arca
Arca-arca megalitik menggambarkan binatang dan manusia. Binatang-binatang yang biasa digambarkan adalah gajah, harimau, dan monyet.

D. Alat Perunggu

1. Nekara Perunggu
Nekara berupa alat bunyi-bunyian mirim genderang. Di Indonesia, nekara ditemukan dalam berbagai ukuran. Nekara terbesar ditemukan di Pejeng (Bali). Nekara ini bergaris tengah 160 cm dan tinggi 198 cm. Nekara berukuran kecil disebut dengan moko.
2. Kapak Perunggu
Bentuk kapak perunggu bermacam-macam. Ada yang menyerupai corong (disebut kapak corong), ada pula yang menyerupai pahat dan jantung (tembilang). Selain sebagai kapak, kapak perunggu berfungsi juga sebagai alat kebesaran dan upacara.
3. Bejana Perunggu
Bejana perunggu berupa benda berbentuk seperti gitar Spanyol yang tidak bertangkai. Permukaan luar benda tersebut dihiasi pola anyaman simetris.
4. Arca Perunggu
Bentuk arca perunggu yang ditemukan bermacam-macam bentuk. Umumnya berbentuk orang dan binatang. Masing-masing dalam beragam sikap. Arca perunggu tersebut antara lain ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur), dan Bogor (Jawa Barat).

E. Alat Besi

Temuan benda-benda prasejarah yang dibuat dari besi di Indonesia belum banyak. Mungkin alat-alat tersebut telah hancur karena karat. Pada umumnya alat dari besi ditemukan bersama alat dari perunggu. Alat dari besi digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari dan bekal kubur. Jenis alat yang dibuat dari besi antara lain :
 Mata pisau
 Mata pedang
 Cangkul
 Tongkat






Selesai


CopyRight © 2010
By Muhammad Hendri, S.Sos, S.Pd
Written for Students of Class VII SMP Sinar Husni
HP : 081264070041 – (061)77813539
Email : muhammadhendri37@yahoo.com
Wibesite : www.muhammadhendri.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar